(Dijawab Oleh : Asy Syaikh Abu Fairuz Abdurrahman bin Soekojo Al Qudsiy Al Jawiy Hafizhahullah )
Download Audio :
t.me/MaktabahFairuzAdDailamiy/3990
Transkripsi Otomatis:
(0:05) Perlu dipertanyakan lebih dulu (0:08) Apa yang dimaksudkan dengan tasawuf (0:10) Ini nisbatnya kemana tasawuf itu (0:13) Sebagian orang mengatakan (0:15) Tasawuf itu kembalinya ke Ahlus Sufah (0:18) Dan itu salah besar (0:19) Karena As Sufah (0:21) Itu adalah emperan atau beranda masjid (0:24) Seandainya (0:26) Tasawuf itu ke Sufah (0:28) Nisbatnya bukan Sufi (0:31) Tetapi apa (0:32) As Sufi (0:34) Tapi praktiknya mereka menamakan diri mereka sebagai (0:37) As Sufi (0:38) Berarti apa (0:40) Bukan dari Ahlus Sufah (0:42) Dan juga Ahlus Sufah (0:44) Tidak memiliki ajaran khusus (0:46) Mereka adalah para (0:48) Para tamu Islam yang belajar kepada (0:50) Nabi SAW dan mereka tidak menyelisihi (0:52) Satu darah pun (0:54) Dari ajaran Nabi SAW (0:56) Mereka adalah para sahabat (0:58) Yang setia dengan ajaran Nabi (0:59) Bukan membuat ajaran sendiri seperti yang dibayangkan oleh (1:02) Orang-orang Sufi (1:04) Sebagian mengatakan (1:06) Itu dari (1:09) Kejernihan hati (1:11) Dan ini salah (1:12) Seandainya dia (1:15) Dinisbatkan kepada (1:16) Kejernihan hati (1:18) Bukan As Sufi (1:20) Tapi As Sufawi (1:23) Makanya (1:24) Sebenarnya Sufi (1:25) Ini dinisbatkan kepada Suf (1:26) Suf adalah bulu domba (1:29) Kalau ternyata yang betul itu adalah bulu domba (1:32) Karena memang praktiknya (1:33) Orang-orang Sufi zaman dulu (1:36) Mereka untuk mendidik jiwa mereka (1:38) Mereka sengaja (1:40) Pakai baju Suf (1:41) Baju yang terbuat dari Suf (1:43) Kain wool (1:44) Dengan alasan apa (1:45) Agar dalam situasi yang panas (1:48) Mereka memakai baju seperti itu (1:50) Seakan-akan (1:51) Polanya adalah menyiksa diri (1:54) Pakai baju (1:55) Yang agak tebal-tebal (1:57) Dalam situasi panas (1:58) Untuk melatih diri (1:59) Agar siap menghadapi (2:03) Kesulitan hidup (2:06) Seperti itu (2:07) Tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad (2:09) S.A.W (2:11) Sengaja menyiksa diri (2:13) Tidak diajarkan oleh Nabi (2:14) S.A.W (2:16) Memakai kain-kain yang seperti itu (2:18) Dengan disengaja (2:20) Dengan diniatkan sebagai bentuk ibadah (2:22) Pakai kain apa yang semampunya (2:24) Rasulullah S.A.W (2:25) Dijelaskan oleh Imam Ibnul Qayyim (2:27) Di dalam Zadul Ma’ad (2:29) Beliau memakai pakaian apa yang dimudahkan (2:32) Oleh Allah Ta’ala (2:34) Dimampui untuk dicari (2:35) Tanpa mengkhususkan pakaian tertentu (2:37) Dengan niatan (2:40) Untuk menyiksa diri (2:42) Seperti yang dilakukan oleh orang-orang Sufi (2:46) Sufi (2:47) Tasawuf (2:47) Pakai wajan Tafakul (2:49) Mencari (2:50) Mencari penisbatan (2:54) Atau pelajaran (2:55) Sufi (2:56) Kita sudah tahu tadi (2:58) Sebenarnya dia adalah sebuah kebitahan (3:00) Maka mempelajarinya adalah bitah (3:02) Kalau kita tanya untuk apa belajar itu (3:04) Oh agar jadi ikhlas (3:06) Tanpa belajar Sufi (3:07) Belajar Tasawuf pun orang boleh ikhlas (3:10) Mengikuti ajaran Allah dan Rasul-Nya (3:12) Karena Allah dan Rasul-Nya tidak pernah mengajarkan (3:15) Sistem Tasawuf seperti itu (3:17) Dinisbatkan kepada (3:18) Sufiyah, dinisbatkan pada (3:20) Kain wal atau apa saja itu tadi (3:22) Tapi apa, belajar sesuai dengan (3:24) Apa yang diwahiukan oleh Allah Ta’ala (3:26) Dalam Quran, diajarkan oleh (3:28) Nabi dalam as-sunnah, dibimbing oleh para sahabat (3:31) Rasulullah SAW (3:32) Kalau tujuannya, oh agar (3:34) Biar jadi zuhud, belajar zuhud (3:36) Seperti yang diajarkan Nabi (3:38) Tidak buatan-buatan sendiri (3:39) Oleh orang yang mereka tidak maksum (3:42) Atau kalau biar jadi warok (3:44) Warok, seperti waroknya (3:45) Nabi dan para sahabat, tidak dengan (3:47) Ajaran-ajaran yang aneh-aneh yang dibuat (3:49) Oleh orang-orang Sufiyah yang ujung-ujungnya (3:52) Membagi ringkatan agama (3:54) Tidak seperti yang diajarkan oleh (3:55) Allah dan Rasul-Nya, tetapi membagi (3:57) Menjadi tiga, yaitu syariat (3:59) Kalian orang awam ikut syariat (4:01) Kemudian yang tingkatan berikutnya (4:04) Kalau sudah mampu melepaskan (4:05) Diri dari nafsun sabu’iyah (4:07) Dan nafsun bahimiyah (4:09) Jiwa yang sabu’iyah (4:11) Jiwa yang ganas, yang suka (4:14) Suka mengalahkan pihak yang lain (4:15) Atau bahimiyah yang suka memenuhi (4:17) Hawa nafsunnya, maka dia akan (4:19) Mencapai tingkat ma’rifah (4:22) Kenal (4:23) Kenal hakikat alam semesta ini (4:26) Sehingga kalau sudah mencapai tingkat ma’rifah (4:27) Tak perlu lagi ibadah, ajaran dari (4:29) Mana ini, sementara Allah Ta’ala (4:31) Telah berfirman kepada Rasul-Nya (4:33) Wa’budu rabbaka hatta yaktiakal yakin (4:35) Sembahlah Rabbumu (4:36) Sampai datangnya perkara yang diyakini (4:38) Apa perkara yang diyakini, yaitu (4:40) Kematian, karena (4:42) Ayat Qur’an dijelaskan oleh ayat Qur’an yang lain (4:45) Hatta yaktiakal yakin (4:47) Sampai kami didatangi oleh kematian (4:49) Sampai sejakbila orang kafir itu (4:51) Mencapai tingkatan (4:53) Keyakinan, maksudnya adalah apa (4:54) Kematian, kami terus-menerus (4:56) Mendustakan hari kiamat sampai datangnya (4:59) Kematian (4:59) Al-yakin adalah kematian (5:01) Jadi Nabi Muhammad disuruh untuk beribadah (5:04) Sampai datangnya kematian (5:05) Demikian pula para nabi yang lain (5:07) Nabi Isa mengatakan (5:09) Wa’awsoni bisolati wa zakati maduntuhaya (5:12) Allah mewasiatkan kepada saya (5:14) Untuk sholat dan zakat selama saya (5:15) Masih hidup, jadi para nabi sendiri (5:17) Mereka adalah terus-menerus beribadah (5:19) Kepada Allah Ta’ala, demikian pula (5:22) Keluarga nabi (5:23) Innahum kanu yusari’unafil khairat (5:25) Wayad’unana raghaba wa rahaba (5:27) Waganulana khoshiin (5:29) Setelah Allah menceritakan para nabi dan keluarga mereka (5:32) Sesungguhnya mereka itu (5:33) Selalu berlomba-lomba (5:35) Di dalam kebaikan (5:37) Dan mereka berdoa (5:39) Kepada kami dalam keadaan rasa takut (5:41) Dan cemas, dan mereka (5:43) Senantiasa khusyuk kepada kami (5:44) Jadi mereka terus-menerus beribadah (5:46) Baik para nabinya, demikian pula keluarganya (5:49) Dan kita diwajibkan (5:51) Untuk mencontoh nabi (5:52) Nabi ibadah sampai mati, kita juga ibadah (5:55) Tidak seperti ajaran sufi yang sombong itu (5:58) Setelah mencapai tingkatan tertentu (5:59) Maka, kami tak perlu lagi ibadah (6:02) Kemudian kalau sampai tingkatan lebih tinggi lagi (6:04) Kami mencapai tingkatan hakikat (6:06) Yaitu apa? (6:06) Kami adalah Allah itu sendiri, na’udzubillah (6:08) Kesombongan seperti itu (6:10) Lalu dimana hasil ibadahnya? (6:12) Ibadah mencapai tingkatan ubudiyah, menghamba pada Allah (6:15) Inilah tingkatan tertinggi (6:17) Seorang hamba, seorang makhluk (6:19) Sebagai hamba, bukan malah menjadi Tuhan (6:21) Menjadi seperti fir’aun, na’udzubillah (6:23) Jadi belajar tasawuf seperti yang (6:26) Kalau kita singkatkan hakikat tasawuf (6:28) Seperti ini, maka belajar tasawuf (6:30) Ini adalah bid’ah (6:31) Dan bahkan boleh mencapai kepada kekufuran (6:33) Tapi kalau belajar dalam artian (6:36) Memahami isinya (6:37) Agar tahu kebatilannya (6:39) Ini wajar seperti itu (6:41) Tak mengapa, sebagaimana para ulama mempelajari (6:44) Prinsip-prinsip mu’tazilah (6:45) Untuk membantahnya, untuk mengetahui (6:47) Sisi kebatilannya, mempelajari (6:49) Prinsip-prinsip jahmiyah, untuk mengetahui (6:52) Sisi kebatilannya, lalu membantahnya (6:54) Ini jelas lain (6:56) Belajar untuk mengetahui isinya (6:58) Dan membantahnya (6:59) Tapi biasanya orang mengatakan kita belajar tasawuf (7:02) Tujuannya memang untuk meneladani (7:04) Para tokoh-tokoh sufiyah (7:06) Dan mengikuti bimbingan yang ada (7:07) Di dalam ajaran tasawuf tadi (7:09) Dan ini adalah bid’ah